Model-Model Pembelajaran Tematik (Terpadu) Dan Strategi Pengembangannya

Model-Model Pembelajaran Tematik (Terpadu) Dan Strategi Pengembangannya

Oleh:

 Junaidi Arsyad, Ahmad Syukur, M.Toguan, Suhaimah dan Nurbaiti

  1. Pendahuluan

            Sebuah pertanyaan penting mengawali pembahasan ini adalah apakah istilah “tematik” dan “terpadu” itu sama, mengingat kita sering mendengar kedua istilah ini digunakan secara bersamaan bahkan tumpang tindih? Agar arah pembahasan ini focus dan tidak timbul kebingungan, ada baiknya kita kaji sepintas tentang kedua istilah tersebut.

            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi terbaru, tematik diartikan sebagai “ berkenaan dengan tema”; dan “tema” sendiri berarti “pokok pikiran; dasar cerita (yang dipercakapkan, dipakai sebagai dasar mengarang, mengubah sajak, dan sebagainya).”[1] Sebagai contoh, tema sandiwara ini ialah yang keji dan jahat pasti akan kalah oleh yang baik dan mulia.

            Tidak jauh berbeda dengan sumber literatur lainnya, Hendro Darmawan dkk, tematik diartikan sebagai “mengenai tema; yang pokok; mengenai lagu pokok”.[2] Sedangkan terpadu berarti “sudah padu (disatukan, dilebur menjadi satu, dan sebagainya).”[3]

            Dari uraian  tersebut, sekilas sudah tergambar bahwa istilah tematik dan terpadu, meskipun tampak beda tetapi sesungguhnya intinya sama, yaitu sama-sama berorientasi pada proses penyatuan. Kalau tematik pada hakikatnya berorientasi pada satu wujud melalui penyesuaian dengan satu tema (objek) tertentu, maka terpadu adalah membuat wujud baru yang satu dengan cara meleburkan berbagai wujud asal yang berbeda-beda.

Oleh karena itu dalam konteks implementasi kurikulum dapat dipahami bahwa pembelajaran tematik adalah salah satu model pembelajaran terpadu (integrated learning) pada jenjang taman kanak-kanak (TK/RA) atau sekolah dasar (SD/MI) untuk kelas awal (kelas 1, 2, dan 3) yang didasarkan pada tema-tema tertentu yang kontekstual dengan dunia anak.[4] Sementara itu, contoh untuk pembelajaran terpadu pada satuan pendidikan adalah pemaduan mata pelajaran IPA dan IPS di SMP atau Mts. Mata pelajaran IPA di SMP/MTs merupakan peleburan dari mata pelajaran kimia, fisika, dan biologi; sedangkan mata pelajaran IPS peleburan dari mata pelajaran geografi, ekonomi dan sosiologi.[5] Pendekatan tematik dirancang agar proses pembelajaran dari beberapa mata pelajaran yang diampu guru kelas yaitu PKn, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, dan IPS yang dipelajari peserta didik menjadi lebih bermakna. Dengan pembelajaran tematik diharapkan pembelajaran lebih berkesinambungan dan tidak berdiri sendiri. Sementara untuk ketiga mata pelajaran (Agama, Olahraga dan mulok) dibelajarkan secara mandiri oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan.

 Untuk menyatukan persepsi, dalam makalah ini akan menggunakan istilah tematik terpadu, hal ini sejalan dengan semangat kurikulum 2013 yakni kurikulum tematik integratif. Dimana pembahasannya menyangkut hakikat, tujuan, teori yang mendasari, prinsip-prinsip pengembangannya, dasar-dasar pertimbangan, jenis strategi dan metode yang relevan serta prosedur penerapannya.

  1. Hakikat Model Pembelajaran Tematik Terpadu

Pembelajaan tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa.Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan. Menurut Rusman, dengan tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya:[6]

  1. Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu,
  2. Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama;
  3. Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
  4. Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa;
  5. Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas;
  6. Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain;
  7. Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.

Selain itu, sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik memiliki karakteristik tersendiri, yakni:[7]

  1. Berpusat pada anak.
  2. Memberikan pengalaman langsung pada anak.
  3. Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas.
  4. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses.
  5. Bersifat fleksibel.
  6. Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat, dan kebutuhan anak.

Jadi dalam menerapkan model pembelajaran tematik terpadu ini, kita haruslah melakukannya dengan cara yang bersahabat, menyenangkan, dan bermakna bagi anak. Sedangkan dalam menanamkan konsep atau pengetahuan dan keterampilan, anak tidak harus di-drill, tetapi ia belajar melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah dipahami. Bentuk pembelajaran ini dikenal dengan pembelajaran terpadu, dan pembelajarannya sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak.

  1. Tujuan Model Pembelajaran Tematik Terpadu

Menurut Sukayati, Pembelajaran Tematik Terpadu dikembangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, dengan tujuan siswa dapat:[8]

  1. Meningkatkan pemahaman konsep yang dipelajarinya secara lebih bermakna.
  2. Mengembangkan keterampilan menemukan, mengolah, dan memanfaatkan informasi
  3. Menumbuhkembangkan sikap positif, kebiasaan baik, dan nilai-nilai luhur yang diperlukan dalam kehidupan.
  4. Menumbuhkembangkan keterampilan sosial seperti kerja sama, toleransi, komunikasi, serta menghargai pendapat orang lain.
  5. Meningkatkan gairah dalam belajar; dan
  6. Memilih kegiatan yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

  1. Teori yang Mendasari Model Pembelajaran Tematik

Menurut Ahmad Fawzan Rohman, Model pembelajaran tematik terpadu (PTP) yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai integrated thematic instruction (ITI) dikembangkan mula-mula di awal tahun 1970-an. Pendekatan pembelajaran tematik integratif ini sebelumnya telah dikembangkan khusus untuk anak-anak berbakat dan bertalenta (gifted and talented), anak-anak yang cerdas, program perluasan belajar, dan peserta didik yang belajar cepat. Akhir-akhir ini Pembelajaran Tematik Terpadu (PTP) dianggap sebagai salah satu model pembelajaran yang efektif (highly effective teaching model). Keefektifan model pembelajaran tematik terpadu dapat dilihat dari kemampuannya dalam mewadahi serta menyentuh secara terpadu ranah-ranah emosi (emotional), fisik (physical), dan akademik (academic) di dalam kelas atau di lingkungan sekolah.[9]

Sementara itu, konsep pembelajaran tematik terpadu sendiri pada dasarnya telah lama dikemukakan oleh Jhon Dewey sebagai upaya mengintegrasikan perkembangan dan pertumbuhan siswa serta kemampuan pengetahuannya. Ia memberikan pengertian bahwa pembelajaran tematik terpadu adalah pendekatan untuk mengembangkan pengetahuan siswa dalam pembentukan pengetahuan berdasarkan pada interaksi dengan lingkungan dan pengalaman kehidupannya. Hal ini membantu siswa untuk belajar menghubungkan hal yang telah dan sedang dipelajarinya. Dengan kata lain, model pembelajaran tematik terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa secara individual ataupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna dan autentik.[10]

Secara kualitatif terdapat perbedaan antara model pembelajaran tematik terpadu bila dibandingkan dengan model pembelajaran lainnya, yaitu dalam hal sifatnya yang akan memandu siswa agar dapat mencapai kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher levels of thinking) atau keterampilan berpikir dengan mengoptimasi kecerdasan ganda (multiple thinking skills), sebuah proses inovatif  bagi pengembangan dimensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan.[11]

Menurut Uukurniawati,  model pembelajaran tematik ini berdasarkan dari teori Gestalt, dimana teori ini dimotori oleh para tokoh psikologi Gestalt, (termasuk teori Piaget) yang menekankan bahwa pembelajaran itu haruslah bermakna dan menekankan juga pentingnya program pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan perkembangan anak. Pembelajaran tematik merupakan suatu pendekatan yang berorientasi pada praktik pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Pembelajaran ini berangakat dari teori pembelajaran yang menolak proses latihan/hafalan (drill) sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak.[12]

Sementara itu, Pendekatan model pembelajaran tematik terpadu menekankan pada keterkaitan (linkages) dan keterhubungan  (relationship) antar berbagai disiplin. Model  Pembelajaran Tematik Terpadu itu sendiri setidaknya ada   sepuluh   macam model, yaitu:

  1.  Model Terhubung  (The Connected Model),
  2.  Model Jaring Laba-Laba (The Webbed Model),
  3.  Model   Tematik   Terpadu   (The Integrated Model),
  4.  Model Sarang (The Nested Model),
  5.  Model Penggalan (The Fragmented Model),
  6.  Model Terurut (The Sequenced Model),
  7.  Model Irisan   (The Shared Model),
  8.  Model Galur (The Threaded Model),
  9.  Model Celupan (The Immersed Model). Dan
  10. Model Jaringan Kerja (The Networked  model).

 Dalam Model Tematik Terpadu, hanya ada tiga model yang  dikembangkan atau dikenalkan di sekolah maupun lembaga pendidikan tenaga keguruan (LPTK) di Indonesia. Ketiga model tersebut adalah (1) model keterhubungan (connected), (2) model jaring laba-laba (webbed) dan (3) model kerpaduan (integrated).

Model-Model Pembelajaran Terpadu[13]

  1. Model Pembelajaran Jaring Laba-Laba ( Webbed Model)

a)    Pengertian
Pembelajaran model Webbed adalah pembelajaran yang pengembangannya dimulai dengan menentukan tema tertentu yang menjadi tema sentral bagi keterhubungan berbagai bidang studi.

b)   Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan dari model jaring laba-laba (Webbed) meliputi:

1). Penyeleksian tema sesuai dengan minat akan memotivasi anak untuk belajar
2). lebih mudah dilakukan oleh guru yang belum berpengalaman

3). Memudahkan perencanaan

4). Pendekatan tematik dapat memotivasi siswa dan,

5).  memberikan kemudahan bagi anak didik dalam melihat kegiatan-kegiatan dan ide-ide berbeda yang terkait.

Selain kelebihan yang dimiliki, model Webbed juga memiliki beberapa kekurangan antara lain:

1). Sulit dalam menyeleksi tema

2). Cenderung untuk merumuskan tema yang dangkal dan,

3). Dalam pembelajaran, guru lebih memusatkan perhatian pada kegiatan dari pada pengembangan konsep.

c). Contoh Model Jaring Laba-laba/Model Terjala (Webbed model)

Pada model pembelajaran tematik jaring laba-laba guru menyajikan pembelajaran dengan tema yang menghubungkan antar mata pelajaran. Model jaring laba-laba adalah pembelajaran yang mengintegrasikan materi pengajaran dan pengalaman belajar melalui keterpaduan tema. Tema menjadi pengikat keterkaitan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya.

1)      Tahap perencanaan

Langkah perancangan pembelajaran tematik adalah langkah-langkah yang harus dilakukan guru dalam perancangan pembelajaran yang berorientasi dalam pembelajaran tematik. Langkah persiapan pembelajaran tematik meliputi pemetaan kompetensi dasar pada tema, menentukan tema sentral, pemetaan pokok bahasan, penentuan alokasi waktu, perumusan tujuan pembelajaran, penentuan alat dan media pembelajaran, dan perencanaan evaluasi. Berikut ini adalah contoh merencanakan pembelajaran tematik model jaring laba-laba yang dimulai dari penjabaran kompetensi dasar beberapa mata pelajaran di kelas I ke dalam indikator:

• IPA

–          Mengenal bagian-bagian tubuh dan kegunaannya.

–          Menyebutkan nama bagian-bagian tubuh menceritakan kegunaan bagian bagian tubuh

–          Menyebutkan anggota gerak tubuh.

• Bahasa Indonesia

–          Menyebutkan nama bagian-bagian tubuh.

–          Menceritakan kegunaan bagian bagian tubuh.

–          Menyebutkan anggota gerak tubuh.

• Matematika 

–          Membilang banyak benda.

–          Membilang atau menghitung secara urut.

–          Menyebutkan banyak benda.

–           Membandingkan dua kumpulan benda melalui istilah lebih banyak, lebih sedikit, atau sama banyak.

• IPS

–          Mengiden-tifikasi identitas diri, keluarga, dan kerabat.

–          Menyebutkan nama lengkap dan nama panggilan.

–          Menyebutkan nama ayah, ibu, saudara dan wali.

–          Menyebutkan alamat tempat tinggal.

–          Menyebutkan anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah.

• Kewarganegaraan

–          Menjelaskan perbedaan jenis kelamin, agama dan suku bangsa.

–          Menyebutkan berdasarkan jenis kelamin anggota keluarga.

• Pendidikan Agama Islam

–          Membiasakan perilaku terpuji.

–          Membiasakan perilaku jujur.

–          Membiasakan perilaku bertanggung jawab.

Setelah menjabarkan KD ke dalam indikator guru menentukan tema sentral dan memetakan keterhubungan antar mata pelajaran dengan tema sentral. Berikut ini adalah jaring-jaring tema dengan tema sentral keluargaku. tema sentral dan memetakan keterhubungan antar mata pelajaran dengan tema sentral.

 

2.  Pembelajaran Terpadu Tipe Keterkaitan (Connected)

     a. Pengertian

Connected Model (keterkaitan) adalah model pengembangan kurikulum yang menggabungkan secara jelas satu topik dengan topik berikutnya, satu konsep dengan konsep lainnya, satu kemampuan dengan kemampuan lainnya, kegiatan satu hari dengan hari lainnya, dalam satu mata pelajaran.

Model pembelajaran terpadu tipe connected atau keterhubungan pada
prinsipnya mengupayakan adanya keterkaitan antara konsep, keterampilan, topik, ide,
kegiatan dalam suatu bidang studi. Model ini tidak melatih siswa untuk melihat suatu
fakta dari berbagai sudut pandang, karena dalam model ini keterkaitan materi hanya
terbatas pada satu bidang studi saja. Model ini menghubungkan beberapa materi, atau konsep yang saling berkaitan dalam satu bidang studi. Materi yang terpisah-pisah akan tetapi mempunyai kaitan, dengan sengaja dihubungkan dan dipadukan dalam sebuah topik tertentu.

Contoh pengajaran menggunakan pembelajaran terpadu tipe terhubung (connected) :

1.   Guru menghubungkan/menggabungkan konsep matematika tentang uang dengan  konsep  jual beli, untung rugi, simpan pinjam, dan bunga.

2.    Guru menghubungkan/menggabungkan konsep matematika tentang uang dengan konsep jual  beli, untung rugi, simpan pinjam, dan bunga.

3.    Guru menghubungkan konsep pecahan dengan desimal, dan pecahan dengan uang, tingkatan, pembagian, rasio, dan sebagainya.

b. Kelebihan

– Guru akan dapat melihat gambaran yang menyeluruh dan kemampuan/indikator yang digabungkan;

   dampak positif dari mengaitkan ide-ide dalam satu bidang studi adalah siswa memperoleh gambaran yang luas sebagaimana suatu bidang studi yang terfokus pada suatu aspek tertentu.

– menghubungkan ide-ide dalam suatu bidang studi sangat memungkinkan bagi siswa untuk mengkaji, mengkonseptualisasi, memperbaiki, serta mengasimilasi ide-ide secara terus menerus sehingga memudahkan untuk terjadinya proses transfer ide-ide dalam memecahkan masalah.

– Kegiatan anak lebih terarah untuk mencapai kemampuan yang tertera pada indikator;

–  Siswa memperoleh gambaran secara siswa dapat mengembangkan konsep-konsep kunci secara terus menerus, sehingga terjadilah proses internalisasi.menyeluruh tentang suatu konsep sehingga transfer pengetahuan akan sangat mudah karena konsep-konsep pokok dikembangkan terus-menerus;

–  Siswa dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas dan luas dari konsep yang dijelaskan dan juga siswa diberi kesempatan untuk melakukan pedalaman, tinjauan, memperbaiki dan mengasimilasi gagasan secara bertahap.

c. Kekurangan

– Model ini belum memberikan gambaran yang menyeluruh karena belum menggabungkan bidang-bidang pengembangan/mata pelajaran yang lain;

– Masih kelihatan terpisahnya antar bidang studi, walaupun hubungan dibuat secara eksplisit antara mata pelajaran (interdisiplin).

– Tidak mendorong guru untuk bekerja secara tim, sehingga isi dari pelajaran tetap saja terfokus tanpa merentangkan konsep-konsep serta ide-ide antar bidang studi,

– Memadukan ide-ide dalam satu bidang studi, maka usaha untuk mengembangkan keterhubungan antar bidang studi menjadi terabaikan

– Model ini kurang mendorong guru bekerja sama karena relatif mudah dilaksanakan secara mandiri;

–  Bagi guru bidang studi mungkin kurang terdorong untuk menghubungkan konsep yang terkait karena sukarnya mengatur waktu untuk merundingkannya atau karena terfokus pada keterkaitan konsep, maka pembelajaran secara global jadi terabaikan.

 d. Kapan Menggunakan Connected Model

           Model ini digunakan sebagai permulaan kurikulum terpadu. Guru merasa percaya diri mencari keterhubungan dalam mata pelajaran mereka (jika guru bidang studi). Mereka menjadi mau mengadaptasikan hubungan ide-ide dalam mata pelajaran yang menyeberang. Pembuatan keterhubungan juga diselesaikan secara kolaborasi dalam pertemuan guru (departement meeting) dalam hal ini dalam kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) yang dapat terjadi lebih famillier. Guru dapat memulai model ini sebelum memasuki keterpaduan yang lebih kompleks.

 

3. Pembelajaran Terpadu Model Integrated (Terpadu)

a. Pengertian

Integrated Model adalah model pengembangan kurikulum yang menggunakan pendekatan lintas bidang ilmu utama dengan mencari keterampilan, konsep dan sikap yang tumpangtindih. Dalam konteks pembelajaran TK, Integrated Model adalah model pengembangan kurikulum yang menggunakan pendekatan lintas bidang pengembangan. Model ini berusaha memberikan gambaran yang utuh pada anak tentang tujuan melakukan kegiatan-kegiatan yang terdapat dalam bidang-bidang pengembangan.

Contoh penerapan pembelajaran terpadu tipe keterpaduan adalah:

Pada awalnya guru menyeleksi konsep-konsep keterampilan dan nilai sikap yang diajarkan dalam satu semester dari beberapa mata pelajaran misalnya: matematika, IPS, IPA dan Bahasa. Selanjutnya dipilih beberapa konsep, keterampilan dan nilai sikap yang memiliki keterhubungan yang erat dan tumpang tindih di antara beberapa mata pelajaran.

b. Kelebihan

1). Guru akan dapat melihat gambaran yang menyeluruh dari kemampuan yang dikembangkan dari berbagai bidang studi/mata pelajaran;

2).  Memberikan kegiatan yang lebih terarah pada tiap bidang pengembangan untuk mencapai kemampuan yang telah ditentukan pada indikator;

3). Siswa merasa senang dengan adanya keterkaitan dan hubungan timbale balik antar berbagai disiplin ilmu;

4). Memperluas wawasan dan apresiasi guru.

c.  Kekurangan

1). Cukup sulit dilaksanakan karena membutuhkan guru yang berkemampuan tinggi dan yakin dengan konsep dan kemampuan yang akan dikembangkan di setiap bidang pengembangan;

2). Kurang efektif karena membutuhkan kerjasama dari banyak guru;

3). Sulit mencari keterkaitan antara mata pelajaran yang satu dengan yang lainnya, juga mencari keterkaitan aspek keterampilan yang terkait;

4). Dibutuhkan banyak waktu pada beberapa mata pelajaran untuk didiskusikan guna mencari keterkaitan dan mencari tema.

            Dari ketiga model tersebut dapat disimpulkan bahwa, Model keterhubungan, pada prinsipnya mengupayakan dengan sengaja adanya  keterhubungan konsep, keterampilan, topik, ide, kegiatan dalam satu bidang studi. Pada model ini, siswa tidak terlatih untuk melihat suatu fakta dari berbagai sudut pandang, karena pada model ini keterkaitan materi hanya terbatas pada satu bidang studi saja.

Model jaring laba laba (webbed) merupakan model dengan menggunakan pendekatan tematik. Karena karakterik dari model ini adalah menggunakan pendekatan tema maka dalam model ini, tema dijadikan sebagai pemersatu dari beberapa mata pelajaran. Setelah tema  ditemukan. Baru dikembangkan sub-sub temanya dengan memperhatikan kaitanya dengan mata pebelajaran yang dipadukan.

Sedangkan model keterpaduan merupakan model yang menggunakan pendekatan antar bidang studi. Diupayakan penggabungan bidang studi dengan cara menetapkan prioritas kurikuler dan menemukan keterampilan, konsep dan sikap yang tumpang tindih di dalam beberapa bidang studi. Model ini sulit di laksanakan sepenuhnya mengingat sulitnya menemukan materi dari setiap bidang studi yang benar–benar tumpang tindih dalam satu semester, dan sangat membutuhkan keterampilan guru yang cukup tinggi dalam perencanaan dan pelaksanaanya.[14]

Secara spesifik Teori-teori Belajar yang Mendukung Pembelajaran Tematik adalah:

  1. Teori belajar Konstrutivisme

Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman, dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada anak, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing siswa. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya.

  1. Teori belajar Pieget

Menurut Ratna Dahar, Piaget menyatakan bahwa, setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya.[15]

Piaget juga menyatakan, usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut:

(1).Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, (2) Mulai berpikir secara operasional,

(3). Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda,

(4). Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat, dan

(5) Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat.[16]

  1. Prinsip-Prinsip Pengembangan Model Pembelajaran Tematik Terpadu

 

Jika diklasifikasikan, setidaknya ada empat kelompok prinsip-prinsip pengembangan Pembelajaran Tematik:[17]

1. Prinsip Penggalian Tema

  • Tema hendaknya tidak terlalau luas, namun dengan mudah digunakan untuk memadukan banyak mata pelajaran.
  • Tema harus bermakna, maksudnya adalah tema yang dipilih untuk dikaji harus memberikan bekal bagi siswa-siswi untuk belajar selanjutnya.
  • Tema harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis anak
  • Tema harus mewadahi sebagian besar minat anak
  • Tema hendaknya berkaitan dengan peristiwa-peristiwa otentik yang terjadi di dalam rentang waktu belajar
  • Tema hendaknya sesuai dengan kurikulum yang berlaku serta harapan masyarakat (asas relevansi)
  • Tema hendaknya sesuai dengan ketersediaan dengan sumber belajar.

2. Prinsip Pengelolaan Pembelajaran

  • Guru tidak menjadi single actor yang mendominasi pembicaraan dalam proses belajar-mengajar.
  • Pemberian tanggungjawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas yang menuntut adanya kerjasama kelompok. Dan
  • Guru harus mengakomodasi terhadap ide-ide yang terkadang sama sekali tidak terpikirkan dalam perencanaan.

3.Prinsip Evaluasi

  • Memberikan kesempatan kepada siswa-siswi untuk; mengevaluasi diri sendiri (self evaluation) di samping bentuk evalauasi lain;
  • Guru perlu mengajak para siswa untuk mengevaluasi perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan keriteria keberhasilan pencapaian tujuan.

4.Prinsip Reaksi

  • Guru harus bereaksi terhadap aksi siswa-siswi dalam semua peristiwa serta tidak mengarahkan aspek yang sempit melainkan ke suatu kesatuan yang utuh dan bermakna. Pembelajaran tematik memungkinkan hal ini dan guru hendaknya menemukan kiat-kiat untuk memunculkan ke permukaan hal-hal yang dicapai melalui dampak pengiring tersebut.

F. Dasar Pertimbangan Pemilihan Pembelajaran Tematik

Terdapat beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam pemilihan model pembelajaran tematik, diantaranya :

  1. Tema hendaknya tidak terlalu luas, namun dengan mudah dapat digunakan untuk memadukan mata pelajaran.
  2. Tema harus bermakna, maksudnya tema yang dipilih intuk dikaji harus memberikan bekal bagi siswa untuk belajar selanjutnya.
  3. Tema harus disesuaikan dengan perkembangan siswa.
  4. Tema yang dikembangkan harus mampu menunjukan sebagian minat siswa.
  5. Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristiwa yang terjadi didalam rentang waktu belajar.
  6. Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan kurikulum yang berlaku serta harapan masyarakat.
  7. Tema yang dipilih hendaknya juga mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar.[18]

  1. Jenis Strategi dan Metode Yang Relevan di Gunakan dalam Model Pembelajaran Tematik

 

Model pembelajaran tematik merupakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa dan memberikan peluang untuk menggunakan berbagai strategi dan metode pembelajaran agar siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan mampu mengembangkan berbagai potensi dan keterampilan dalam diri siswa termasuk keterampilan untuk berpikir kritis. Model pembelajaran yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran tematik yang dimodifikasi dengan strategi dan metode yang ditujukan untuk menumbuhkan keterampilan berpikir kritis bagi siswa Sekolah Dasar.

Model pembelajaran bukanlah satu-satunya cara dalam penyampaian tujuan pembelajaran, metode pelajaran juga memegang peranan yang amat penting, dalam rangka mengaktikan siswa dalam proses pembelajaran maka salah satu metode yang sesuai adalah metode kerja kelompok. Kerja kelompok adalah suatu cara penyajian pelajaran dengan cara siswa mengerjakan sesuatu (tugas) dalam situasi kelompok dibawah bimbingan guru.

Selaras dengan  karateristik pembelajaran tematik, maka dalam pembelajaran yang dilakukan perlu dipersiapkan bervariasi kegiatan dengan menggunakan multimetode, misalnya metode eksperimen, metode bermain perran, metode diskusi, metode demonstrasi maupun metode dialog.[19]

  1. Prosedur Penerapan Model Pembelajaran Tematik dalam Pembelajaran PAI[20]

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran  Tematik

Satuan pendidikan      :  SD Rahmatan Lil ’Alamin

Kelas / semester          :  IV (empat) / 1 (satu)

Tema / Sub Tema        :  Selalu Berhemat Energi / Gaya dan Gerak

Alokasi waktu             :  6 x 35 menit

A. Kompetensi inti

  1. Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya
  2. Menunjukkan  perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, tetangga, dan guru
  3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu secara kritis tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, sekolah, dan tempat bermain
  4. Menyajikan pengetahuan faktual  dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

B. Kompetensi Dasar dan Indikator

Bahasa Indonesia

1.1. Meresapi makna anugerah Tuhan Yang Maha Esa berupa bahasa Indonesia yang diakui sebagai bahasa persatuan yang kokoh dan sarana belajar untuk memperoleh ilmu pengetahuan.

2.4. Memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan sumber daya alam melalui pemanfaatan bahasa Indonesia

3.4. Menggali informasi dari teks cerita petualangan tentang lingkungan dan sumber daya alam dengan bantuan guru dan teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku: Menggali informasi tentang unsur-unsur cerita dari teks cerita

4.4. Menyajikan teks cerita petualangan tentang lingkungan dan sumber daya alam secara mandiri dalam teks bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku dengan rasa percaya diri: Menceritakan pengalaman dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dan memperhatikan unsur-unsur ceritanya.

IPA

2.1. Memiliki kepedulian terhadap gaya, gerak, energi panas, bunyi, cahaya, dan energi alternatif melalui pemanfaatan bahasa Indonesia

3.3. Memahami hubungan antara gaya, gerak, dan energi melalui pengamatan, serta mendeskripsikan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari: Mengidentifikasi tentang gaya gravitasi dalam aktivitas sehari-hari

4.3. Menyajikan laporan hasil percobaan gaya dan gerak menggunakan tabel dan grafik dengan: Mengisi  tabel hasil percobaan gaya gravitasi

IPS

2.3. Memiliki perilaku santun dan jujur tentang jenis-jenis usaha dan kegiatan ekonomi melalui pemanfaatan bahasa Indonesia

3.5. Memahami manusia dalam dinamika interaksi dengan lingkungan alam,sosial, budaya, dan ekonomi: Mengidentifikasi sikap yang harus dimiliki ketika berinteraksi dengan orang lain

4.5. Menceritakan manusia dalam dinamika interaksi dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi : Menjelaskan cara berinteraksi dengan orang lain di sekolah

SBdP     

1.2. Mengakui dan mensyukuri anugerah Tuhan yang Maha Esa atas keberadaan lingkungan dan sumber daya alam, alat teknologi modern dan tradisional, perkembangan teknologi, energi, serta permasalahan sosial

3.5. Mengetahui berbagai alur cara dan pengolahan media karya kreatif : Mengamati alur cara membuat parasut

4.14. Membuat karya kreatif yang diperlukan untuk melengkapi proses pembelajaran dengan memanfaatkan bahan di lingkungan: Membuat parasut untuk menunjukkan pengaruh gaya gravitasi dalam kehidupan sehari-hari

C. TUJUAN

–  Setelah melakukan percobaan, siswa mampu menyimpulkan tentang gaya gravitasi dengan benar.

– Dengan mengamati langkah-langkah pengerjaan, siswa dapat membuat parasut sesuai dengan runtutan yang benar.

– Setelah bermain parasut, siswa dapat menceritakan kembali kegiatan bermain mereka dengan memperhatikan unsur-unsur cerita dalam sebuah karangan.

– Dengan membuat refleksi sikap, siswa dapat menuliskan cara berinteraksi yang baik dengan orang lain.

 

D. MATERI

IPA

  • Pengaruh Gaya Gravitasi dalam kehidupan sehari-hari

SENI, BUDAYA DAN PRAKARYA

  • Membuat parasut

BAHASA INDONESIA

  • Unsur-unsur Cerita
  • Menceritakan pengalaman

IPS

  • Interaksi dengan orang lain

E.  PENDEKATAN & METODE

  • Pendekatan : Scientific
  • Model pembelajaran: Cooperatif Learning tipe STAD
  • Metode: 1. Eksperimen; 2. Diskusi; 3. Tanya jawab; 4. Penugasan
  • Karakter yang dikembangkan: Rasa ingin tahu, peduli, percaya diri, santun, disiplin, sopan

F. KEGIATAN  PEMBELAJARAN

  1. Pendahuluan 

1.  Mengajak semua siswa berdo’a menurut agama dan keyakinan masing-masing ;

2.  Melakukan komunikasi  tentang kehadiran siswa;

3. Bertanya jawab dengan siswa mengenai kegiatan pembelajaran sebelumnya dan menghubungkan dengan kegiatan yang akan dilakukan;

 4. Menginformasikan tema yang akan dibelajarkan yaitu tentang “Selalu berhemat energi” dan sub tema yaitu “Gaya dan Gerak”;

5. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai setelah proses pembelajaran berlangsung 15 menit.

  1. Inti

1.  Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok heterogen;

2. Siswa mengamati teks yang ada di buku tentang gaya gravitasi dalam kehidupan sehari-hari dengan rasa percaya diri;

3. Siswa melakukan percobaan untuk mengetahui  gaya gravitasi bersama dengan teman sekelompoknya;

4. Siswa diberikan kesempatan untuk bereksplorasi dengan benda-benda di kelas;

5. Siswa berdiskusi untuk mengambil kesimpulan dari tabel yang dibuatnya, yang belum mengerti diberikan penjelasan oleh temannya;

 6. Siswa menyimpulkan percobaan yang telah dilakukan 180 menit;

1. Siswa mengamati cara kerja membuat parasut ;

2. Siswa  membuat parasut untuk membuktikan adanya gaya gravitasi;

3. Siswa berdiskusi tentang hubungan permainan parasut dengan gaya gravitasi;

 4. Siswa yang sudah mengerti dengan rasa peduli memberikan penjelasan kepada siswa yang belum mengerti sampai semua anggota dalam kelompok mengerti;

5. Siswa menceritakan pengalamannya dengan rasa percaya diri bermain parasut dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dan memperhatikan unsur-unsur ceritanya;

6. Siswa juga menjelaskan tentang sikap yang harus ditunjukan saat bermain parasut dan manfaat yang diperoleh dari mempraktikkan sikap itu.

  1. Penutup

1. Guru memberikan evaluasi berbentuk kuis (untuk mengetahui hasil ketercapaian materi);

2. Bersama-sama siswa membuat kesimpulan hasil belajar;

3. Mengajak semua siswa berdo’a menurut agama dan keyakinan masing-masing (untuk menutup kegiatan pembelajaran) 15 menit

G. Sumber dan  Media

1. Buku Guru Tematik  kelas IV ; Indonesia. 2013, Selalu Berhemat Energi, Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta

2.  Buku Siswa Tematik  kelas IV ; Indonesia. 2013, Selalu Berhemat Energi, Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta

3. Tutup stoples

4. Paku

5. Spidol

6. Gunting

7. Kantong plastik/kresek

8. Benang

9. Boneka kecil

10. Kertas HVS

11. Pulpen

12. Kelereng

 

H. PENILAIAN

1. Prosedur Penilaian :

– Penilaian Proses: Menggunakan format yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran sejak dari kegiatan awal sampai dengan kegiatan akhir

– Penilaian hasil

2. Instrumen  Penilaian :

– Penilaian Kinerja :

– Kriteria Penilaian B.Indonesia dan IPA  ;

– Kriteria: Bagus Sekali, Bagus, Cukup, Berlatih lagi.

Kemampuan siswa menggali informasi dari teks  Siswa mampu menemukan 3 unsur cerita (tema, latar, tokoh) dari teks yang dibacanya (5) Siswa menemukan 2 unsur cerita dari teks yang dibacanya; (4) Siswa menemukan 1 unsur cerita dari teks yang dibacanya; (3) Siswa belum mampu menemukan unsur-unsur cerita dalam teks yang dibacanya ; (1) Kemampuan mengidentifikasi gaya gravitasi dalam kehidupan sehari-hari Siswa mampu menjelaskan konsep gaya gravitasi dan hal yang mempengaruhi kecepatan jatuh benda serta memberi contoh beberapa gaya gravitasi; (5)Siswa mampu menjelaskan konsep gaya gravitasi dan  hal yang mempengaruhi kecepatan jatuh benda; (4)Siswa mampu menjelaskan konsep gaya gravitasi atau menjelaskan hal yang mempengaruhi kecepatan jatuh benda; (3)Siswa belum mampu menjelaskan konsep gaya gravitasi hal yang mempengaruhi kecepatan jatuh benda.

  • Nilai maksimal   : 10
  • Nilai Minimal      : 2

Mengetahui,

Kepala Sekolah SD…….                                            Guru Mata Pelajaran PKn

_______________________                                   _______________________
NIP.                                                                       NIP.

  1. Kesimpulan

 

            Pembelajaran tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak.

Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar siswa. Pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema, sehingga siswa akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Selain itu, dengan penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar akan sangat membantu siswa, karena sesuai dengan tahap perkembangannya siswa yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik).

Model keterhubungan, pada prinsipnya mengupayakan dengan sengaja adanya  keterhubungan konsep, keterampilan, topik, ide, kegiatan dalam satu bidang studi. Pada model ini, siswa tidak terlatih untuk melihat suatu fakta dari berbagai sudut pandang, karena pada model ini keterkaitan materi hanya terbatas pada satu bidang studi saja.

Model jaring laba laba (webbed) merupakan model dengan menggunakan pendekatan tematik. Karena karakterik dari model ini adalah menggunakan pendekatan tema maka dalam model ini, tema dijadikan sebagai pemersatu dari beberapa mata pelajaran. Setelah tema  ditemukan. Baru dikembangkan sub-sub temanya dengan memperhatikan kaitanya dengan mata pebelajaran yang dipadukan.

Sedangkan model keterpaduan merupakan model yang menggunakan pendekatan antar bidang studi. Diupayakan penggabungan bidang studi dengan cara menetapkan prioritas kurikuler dan menemukan keterampilan, konsep dan sikap yang tumpang tindih di dalam beberapa bidang studi. Model ini sulit di laksanakan sepenuhnya mengingat sulitnya menemukan materi dari setiap bidang studi yang benar–benar tumpang tindih dalam satu semester, dan sangat membutuhkan keterampilan guru yang cukup tinggi dalam perencanaan dan pelaksanaanya.

 

Daftar Pustaka

Dahar,Ratna. Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga, 1989.

Darmawan,  Hendro, dkk. Kamus Ilmiah Populer Lengkap dengan EYD dan Pembentukan Istilah serta Akronim Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Bintang Cemerlang, 2011.

http://www.pustakasekolah.com/rpp-kelas-4-sd-kurikulum-2013.html, diakses tanggal 14 Februari 2014.

http://rhayukarmla.blogspot.com/2012/12/model-model-pembelajaran-terpadu.html, di akses tanggal 14 Februari 2014.

Kunandar, Guru Profesional: Implementasi KTSP dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali Pers, 2007.

Munawaroh, Isniatun. Pembelajaran Tematik Dan Aplikasinya Di Sekolah Dasar, makalah disampaikan dalam forum ilmiah guru SD, diakses dalam, http://staff.uny.ac.id/. diakses tanggal 15 Februari 2014.

Prastowo, Andi. Pengembangan Bahan Ajar Tematik Panduan Lengkap Aplikatif. Yogyakarta: DIVA Press, 2013.

Rusman, Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Pers, 2011.

Rohman, Ahmad Fawzan Model Pembelajaran Tematik, dalam http://fauzan-zifa.blogspot.com, diakses tanggal 14 Februari 2014.

Sukayati, Pembelajaran Tematik di SD Merupakan Terapan dari Pembelajaran Terpadu, Makalah disampaikan dalam Diklat Instruktur?pengembang Matematika SD Jenjang Lanjut tanggal 6-19 Agustus 2004, di PPPG Matematika, 2004.

Trianto, Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik Bagi anak Usia Dini TK/RA dan Anak Usia Awal SD/MI. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013.

Tim Penyusun Pusat Bahasa Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008.

Uukurniawati, Konsep Dasar Pembelajaran Tematik, dalam http://uukurniawati. wordpress.com, diakses tanggal 14 Februari 2014.

Wahidin, Teori Pembelajaran, dalam, http://wahidin.staff.stainsalatiga.ac.id, diakses tanggal 14 Februari 2014.

[1] Tim Penyusun Pusat Bahasa Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), h.1429.

[2] Hendro Darmawan dkk, Kamus Ilmiah Populer Lengkap dengan EYD dan Pembentukan Istilah serta Akronim Bahasa Indonesia, (Yogyakarta: Bintang Cemerlang, 2011), h. 710.

[3] Tim Penyusun, Kamus Besar… h. 997.

[4] Trianto, Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik Bagi anak Usia Dini TK/RA dan Anak Usia Awal SD/MI, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), h. v.

[5] Andi Prastowo, Pengembangan Bahan Ajar Tematik Panduan Lengkap Aplikatif, (Yogyakarta: DIVA Press, 2013), h. 123.

[6] Rusman, Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), h. 254-255.

[7] Kunandar, Guru Profesional: Implementasi KTSP dan Sukses dalam Sertifikasi Guru, (Jakarta: Rajawali Pers, 2007), h. 335-336.

[8] Sukayati, Pembelajaran Tematik di SD Merupakan Terapan dari Pembelajaran Terpadu, Makalah disampaikan dalam Diklat Instruktur?pengembang Matematika SD Jenjang Lanjut tanggal 6-19 Agustus 2004, di PPPG Matematika, 2004.

[9] Ahmad Fawzan Rohman, Model Pembelajaran Tematik, dalam http://fauzan-zifa.blogspot.com, diakses tanggal 14 Februari 2014.

[10] Trianto, Desain…, h. 148-149.

[11]Ahmad Fawzan Rohman, Model Pembelajaran Tematik, dalam http://fauzan-zifa.blogspot.com, diakses tanggal 14 Februari 2014.

[12]Uukurniawati, Konsep Dasar Pembelajaran Tematik, dalam http://uukurniawati. wordpress.com, diakses tanggal 14 Februari 2014. Penemu teori Gestalt adalahMax Wertheimer seorang psikolog Jerman. Kata Gestalt berasal bahasa Jerman yang berarti konfigurasi atau organisasi. Gestalt merupakan keseluruhan yang penuh arti. Manusia tidak dapat menghayati stimulus-stimulus secara terpisah, tetapi stimulus itu secara bersama-sama serempak ke dalam konfigurasi yang penuh arti. Keseluruhan itu lebih dari jumlah bagian-bagiannya.Lihat: Wahidin, Teori Pembelajaran, dalam, http://wahidin.staff.stainsalatiga.ac.id, diakses tanggal 14 Februari 2014.

[13] Untuk model-model pembelajaran tematik terpadau ini, di adaptasi dari http://rhayukarmla.blogspot.com/2012/12/model-model-pembelajaran-terpadu.html, diakses tanggal 14 Februari 2014.

[14] Isniatun Munawaroh, Pembelajaran Tematik Dan Aplikasinya Di Sekolah Dasar, makalah disampaikan dalam forum ilmiah guru SD, diakses dalam, http://staff.uny.ac.id/. Diakses tanggal 15 Februari 2014.

[15]Ratna Dahar, Teori-teori Belajar, (Jakarta: Erlangga, 1989), h. 152.

[16] Ratna Dahar, Teori.., h. 153.

[17] Trianto, Desain…, h. 154-155

[18] Ahmad Fawzan Rohman, Model Pembelajaran Tematik, dalam http://fauzan-zifa.blogspot.com, diakses tanggal 14 Februari 2014.

[19] Andi Prastowo, Pengembangan Bahan…, h. 244.

[20] Lihat:http://www.pustakasekolah.com/rpp-kelas-4-sd-kurikulum-2013.html, diakses tanggal 14 Februari 2014.

Makalah Kedudukan dan Fungsi Akhlaq Dalam Islam

Kedudukan dan Fungsi Akhlaq Dalam Islam[1]

Oleh :

Junaidi Arsyad[2]

  1.    Pendahuluan

Dalam keseluruhan ajaran Islam, Akhlaq menempati kedudukan yang istimewa dan sangat penting. Ajaran akhlaq dalam Islam sesuai dengan fitrah manusia. Manusia akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki, bukan semu bila mengikuti nilai- nilai kebaikan yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan sunnah, dua sumber akhlaq dalam Islam. Akhlaq Islam benar- benar memelihara eksistensi manusia sebagai makhluk terhormat, sesuai dengan fitrahnya itu.

Ajaran akhlaq menemukan bentuknya yang sempurna pada agama Islam dengan titik pangkalnya pada Tuhan dan akal manusia. Agama Islam pada intinya mengajak manuusia agar percaya kepada Tuhan dan mengakuinya bahwa Dialah Pencipta, Pemilik, Pemelihara, Pelindung, Pemberi Rahmat, Pengasih dan Penyayang terhadap segala makhlukNya. Segala apa yang ada di dunia ini, dari gejala-gejala yang bermacam-macam dan segala makhluk yang beraneka warna, dari biji dan binatang yang melata di bumi sampai kepada langit yang berlapis semuanya milik Tuhan, dan diatur oleh-Nya.

Selain, itu agama Islam juga mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahtraan. Semua ini terkandung dalam ajaran Al-Qur’an yang diturunkan Allah dan ajaran sunnah yang didatangkan dari Nabi Muhammad SAW.

Beriman kepada Allh dan beribadah kepada-Nya  merupakan hubungan antara manusia dengan Allah. Maka akhlaq pertama kali berkaitan dengan hubungan mu’amalah manusia dengan manusia lain, baik secara perseorangan ataupun secara perkelompok. Tetapi perlu diingat bahwa akhlaq tidak terbatas pada hubungan manusia dengan manusia lain, tetapi lebih dari itu, juga mengatur hubungan manusia dengan segala yang terdapat dalam wujud dan kehidupan ini, maka lebih dari itu mengatur hubungan antara manusia dengan Allah.

  1.   Pembahasan
  2.   Kedudukan Akhlaq  Dalam Islam

            Untuk mengetahui kedudukan akhlaq dalam Islam, maka perlu diuraikan bahwa ada tiga macam sendi Islam, yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya sehingga kualitas seorang muslim selalu dapat diukur dengan pelaksanaannya terhadap ketiga macam sendi tersebut, yang mencakup:

  1. Masalah Aqidah; yang meliputi keenam macam rukun Iman, dengan kewajiban beriman kepada Allah, Malaikat-MalaikatNya, hari akhiratNya dan Qadar baik dan buruk yang telah ditentukanNya.
  2. Masalah syari’ah yang meliputi pengabdian hamba terhadap TuhanNya,yang dapat dilihat pada rukun Islam yang lima. Dan mua’amalah juga termasuk masalah syari’ah.
  3. Masalah Ihsan; yang meliputi hubungan baik terhadap seluruh Allah SWT terhadap sesama manusia serta terhadap seluruh makhluk di dunia ini.

            Dari sinilah kita mengetahui kedudukan akhlaq dalam Islam, yang merupakan sendi yang ketiga dengan fungsi yang selalu mewarnai sikap dan perilaku manusia dalam memanifestasikan keimanannya, ibadahnya serta mu’amalahnya terhadap sesama manusia.

Akhlaq sebagai salah satu ajaran inti dalam Islam mendapat perhatian sangat besar. Akhlaq merupakan sisi yang mempengaruhi penilaian seorang di mata Allah. Masyarakat Islam tidak boleh rusak tatanannya, sebagaimana halnya umat-umat terdahulu, maka Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlaq mulia,  sebagai suatu ajaran dalam Islam yang bermaksud untuk memperbaiki kepribadian manusia. Akhlaq mulia selalu melengkapi sendi keimanan untuk menuju kepada kesempurnaan kepribadian manusia.[3]

 Akhaq mempunyai kedudukan yang paling penting dan istimewa dalam agama Islam. Hal ini dapat dilihat dari penjelasan berikut ini:

  1. Rasulullah SAW menempatkan penyempurnaan akhlaq yang mulia sebagai misi pokok risalah Islam.
  2. Akhlaq merupakan salah satu ajaran pokok agama Islam.
  3. Akhlaq yang baik akan memberatkan timbangan kebaikan seseorang nanti pada hari kiamat.
  4. Rasulullah SAW menjadikan baik burukny akhlaq seseorang sebagai ukuran kualitas imannya.
  5. Islam menjadikan akhlaq yang baik sebagai bukti dan buah dari ibadah kepada Allah SWT.
  6. Nabi Muhammad SAW selalu berdo’a agar Allah SWT membaikkan Akhlaq beliau.
  7. Di dalam Al-Qur’an banyak terdapat ayat-ayat yang berhubungan dengan akhlaq.[4]

                Perhatian ajaran Islam terhadap pembinaan akhlaq ini lebih lanjut dapat dilihat dari kandungan Al-Qur’an yang banyak sekali berkaitan dengan perintah untuk melakukan kebaikan, berbuat adil, menyuruh berbuat baik dan mencegah melakukan kejahatan dan kemungkaran. Perintah tersebut sasarannya antara lain agar yang melakukannya memiliki akhlaq yang mulia.

Selanjutnya perhatian Islam terhadap pembinaan akhlaq dapat pula dijumpai dari perhatian Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana terlihat dalam ucapan dan perbuatannya yang mengandung akhlaq. Di dalam haditsnya misalnya ditemukan pernyataan bahwa beliau diutus ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia. Orang yang paling berat timbangan amal baiknya di akhirat adalah orang yang paling mulia akhlaqnya. Orang yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik  akhlaqnya.[5]

Umat Islam yang dipersiapkan untuk benar-benar menjadi”ummatan wasathan”, harus dilengkapi dengan tuntunan itu berupa ajaran akhlaq mulia, yang diharapkan untuk mewarnai segala aspek kehidupan manusia. Karena itu, sesungguhnya ilmu komunikasi yang paling hebat adalah ilmu yang didasarkan atas “Al-Akhlaqul Karimah”, yang menjadi pegangan bagi umat Islam[6]

Akhlaq dalam Islam ialah mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat bagi individu dan kebaikan bagi masyarakat. Orang Islam dengan petunjuk agamanya , mengikat akhlaq dengan agama dengan ikatan yang kukuh. Ia memandang akhlaq sebagai bagian yang tidak dapat terpisah dari agama. Akhlaq yang baik yang menggambarkan kebaikan dalam tingkah laku dan mu’amalah, sehingga ia menjadi sumber pokok bagi tingkah laku yang utama dan akhlaq yang mulia dalam Islam.

2. Fungsi Akhlak dalam Islam

Fungsi akhlak dalam Islam diantaranya adalah:

  1. Membentuk manusia yang bertaqwa kepada Allah Swt. seperti yang telah ditegaskan oleh Allah bahwa manusia diciptakan di dunia hanyalah untuk menyembah kepada-Nya dan menjalankan peraturan-peraturan-Nya.
  2. Membentuk manusia yang suka tolong menolong. Manusia dalam hidupnya tidak sendirian, akan tetapi hidup bersama-sama(bermasyarakat), dalam kehidupan itu manusia supaya suka tolong menolongkepada sesamanya.

3. Membentuk manusia yang jujur, adil dan berani. Akhlak Islam menganjurkan kepada setiap manusia yang merasa dirinya Islamuntuk berbuat kejujuran dan memiliki keberanian serta melaksanakan keadilan dalam anti di segala bidang. Jadi dalam melaksanakan tiga sikap tersebut,tidak boleh dipandang bulu dengan semboyan berani karena benar.

  1.    Membentuk manusia yang saling hormat-menghormati

      Akhlak Islam menganjurkan kepada setiap manusia dalam pergaulan sehari-hari saling hormat-menghormati. Sehingga tidak akan terjadi olok-olokan dan mencela antara satudengan yang lain. Dengan demikian adanya pendidikan aqidah akhlak yang baik akan terbentuklah manusia yang memiliki hormat kepada sesamanya, karena pendidikan aqidah akhlak mendidik dan mengarahkan kepada keabadian dan kebenaran.

 5.   Membentuk manusia yang tabah dan percaya pada diri sendiri

      Manusia dalam hidupnya pasti mempunyai tujuan dan cita-cita untukmencapainyabanyak rintangan dan halangan yang menjadi ujian bagi dirinya. Untuk itu akhlak Islam  mengajarkan kepada manusia supaya dalam menempuh jalan hidupnya memiliki bekal ketaqwaan, kesabaran dan kepercayaan pada din sendiri dan menjauhkan diri sendiri dan menjauhkan diri pada rasa putus asa.

  1. Membentuk manusia yang sopan santun

      Pendidikan Akhlak memberikan didikan kepada manusia untuk  Selalu membiasakan menjalankan perbuatan-perbuatan yang balk, bertingkah laku yang sopan, berkata yang baik, dan lemah lembut terhadap siapa saja.[7]

 

  1. Kesimpulan

Islam menurut istilah adalah agama yang membawa kedamaian bagi umat manusia, selama mereka berserah diri kepada Tuhan, dan pasrah atas kehendak-Nya. Akhlaq mempunyai kedudukan yang paling penting dan istimewa dalam agama Islam. Hal ini dapat dilihat dari penjelasan berikut ini:

  1. Rasulullah Saw. menempatkan penyempurnaan akhlaq yang mulia sebagai misi pokok risalah Islam.
  2.  Akhlaq merupakan salah satu ajaran pokok agama Islam.
  3. Akhlaq yang baik akan memberatkan timbangan kebaikan seseorang nanti pada hari kiamat.
  4. Rasulullah Saw. menjadikan baik buruknya akhlaq seseorang sebagai ukuran kualitas imannya.
  5. Islam menjadikan akhlaq yang baik sebagai bukti dan buah dari ibadah kepada Allah Swt.
  6. Nabi Muhammad SAW selalu berdo’a agar Allah Swt. membaikkan Akhlaq beliau.
  7. Di dalam Al-Qur’an banyak terdapat ayat-ayat yang berhubungan dengan akhlaq.

Hubungan Islam, dan ihsan dapat dilihat dari pelaksanaan rukun iman dan rukun Islam, tetapi juga harus diikuti dengan mencontoh sifat-sifat Allah menurut kadar kwsanggupan manusia. Jika Allah bersifat sayang, maka manusia juga harus mengikutinya, dengan cara demikian akan timbul ihsan yaitu akhlak yang terpuji.Dengan memahami rukun iman yang demikian itulah seseorang akan mendapatkan sikap ihsan dalam dirinya, jadi bukan hanya sekedar hafal terhadap sejumlah rukun iman tetapi harus pula disertai dengan mengamalkan rukun iman dalam kehidupan sehari-hari, inilah cara menghasilkan ihsan.

Daftar Pustaka

Mahjuddin. Kuliah Akhlaq Tasawuf, Jakarta: Kalam Mulia, 1991.

Ilyas, Yunahar. Kuliah Akhlaq, Yogyakarta: LPPI, 2007.

Nata, Abudin.  Akhlaq Tasawuf, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2009.

http://www.perkuliahan.com/fungsi-pendidikan-aqidah-akhlak/#ixzz2uIqQUju1

[1] Dipresentasekan dalam seminar kelas Pendidikan Profesi Guru (PPG) IAIN Sumut pada Mata Kuliah pendalaman materi akidah akhlak, dengan dosen Pengampu Drs.Hadis purba, MA, tanggal 25 Maret 2014.

 [2] Peserta PPG kls. B IAIN Sumut Tahun 2013/2014.

[3] Mahjuddin, Kuliah Akhlaq Tasawuf, (Jakarta: Kalam Mulia, 1991), h.139-141.

[4] Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq, (Yogyakarta: LPPI, 2007), h. 6-11.

[5] Abuddin Nata, Akhlaq Tasawuf, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2009), h.76.

[6] Mahjuddin, Kuliah…,  h. 76.

[7]Lihat:http://www.perkuliahan.com/fungsi-pendidikan-aqidah-akhlak/#ixzz2uIqQUju1

Makalah Sejarah Nabi Muhammad Saw

NABI MUHAMMAD SAW.[1]

Oleh:

Junaidi Arsyad[2]

 

  1. Pendahuluan

 

Mengkaji perjalanan hidup nabi Muhammad Saw. adalah bagaikan mengarungi samudra nan luas tak bertepi. Wisdom dan hikmah yang terpancar darinya sangat banyak seolah kita tidak akan sanggup untuk menghitungnya. Bagaikan taman, ia juga adalah manusia pilihan yang memberikan suri keteladanan yang indah dan mengagumkan dalam hamper semua spektrum kehidupan baik pribadi, keluarga maupun masyarakat. Keteladanannya juga kita temukan dalam aspek bisnis, militer, budaya, dakwah, kesehatan, sosial politik serta hukum dan keadilan.[3]

 

Ibarat seorang penyelam yang mencari mutiara di samudra nan luas maka ia tidak akan pernah benar-benar mengarungi samudra tersebut sampai lengkap kesemua penjurunya. Kita mengira seolah sudah menjelajahi jauh ke berbagai pelosok. Padahal sesungguhnya kita baru bergerak tidak jauh dari pantai tempat perahu ditambat. Siapapun yang mengkajinya pasti tidak akan lengkap. Seberapa pun upaya yang dicurahkan pasti tidak akan sempurna.[4]

 

Menyadari hal tersebut, penulis dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati memohon kepada Allah Swt. Untuk memberanikan diri melangkah mencari sedikit mutiara yang tersebar luas tersebut. Mencari bunga-bunga indah di taman kearifan Rasulullah Saw. Upaya ini di rangkai dan dituangkan dalam sebuah makalah yang sangat jauh dari kesempurnaan. Dalam makalah ini penulis hanya memaparkan tentang kelahirannya, keluarganya serta keteladannya. Untuk kali ini hanya sekedar “matan” makalah, untuk makalah lengkapnya-“syarahnya”- akan dilanjutnya setelah mendapatkan masukan dari para audiens dalam presentase ini, insya Allah. Semoga bermanfaat.

 

  1. Pembahasan

 

  1. Kelahirannya

 

Dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthollib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr (Quraisy) bin Malik ibnul Nadhr bin Kinanah, salah seorang anak Nazar bin Ma’ad bin And. Mereka adalah anak cucu Nabi Ismail bin Ibrahim a.s. Sedangkan ibunya adalah Aminah bin Wahb al-Zuhriyyah al-Qurasyiyyah.[5] Beliau dilahirkan di Mekkah pada malam senin 12 rabi’ul awal tahun Gajah bertepatan dengan 20 Agustus 570 M.[6]

Mengenai kelahiran Nabi Muhammad ini masih terdapat beberapa perbedaan pendapat di kalangan sejarawan. Sebagian besar mengatakan pada tahun Gajah (570 Masehi). Ibn Abbas juga mengatakan ia dilahirkan pada tahun Gajah itu. Yang lain berpendapat kelahirannya lima belas tahun sebelum peristiwa tersebut. Selanjutnya ada yang mengatakan ia dilahirkan beberapa hari atau beberapa bulan atau juga beberapa tahun sesudah tahun Gajah. Ada yang mengatakan tiga puluh tahun, dan ada juga yang memperkirakan sampai tujuh puluh tahun kemudian setelah itu.juga para ahli berlainan pendapat mengenai bulan kelahirannya. Sebagian besar mengatakan ia lahir bulan Rabiul Awal, ada yang berkata lahir pada bulan Muharram, yang lain berpendapat pada bulan Safar, sebagaian lagi mengatakan bulan Rajab sementara yang lain mengatakan bulan Ramadan. Perbedaan pendapat juga terjadi pada hari bulan ia dilahirkan. Satu  pendapat mengatakan pada malam kedua Rabiul Awal, atau malam kedelapan, atau kesembilan. Tetapi pada umumnya mereka mengatakan ia lahir pada tanggal dua belas Rabiul Awal. Ini pendapat Ibn Ishaq dan yang lain.[7]

Ayahnya Abdullah telah lebih dahulu meninggal sewaktu beliau masih dalam kandungan ibunya. Setelah lahir, kakeknya Abdul Mutallib memberinya nama Muhammad. Ibunya Aminah wafat ketika ia berumur 6 tahun dan dua tahun kemudian Abdul Mutallib yang mengasuhnya juga meninggal dan ketika usia beliau delapan tahun ia diasuh oleh pamannya Abu Thalib, yang juga sebagai pemimpin/pemuka suku Quraisy.[8]

Rasulullah kemudian tumbuh menjadi seorang pemuda dengan penjagaan dan pemeliharaan Allah dari berbagai kotoran jahiliyah, karena Allah menghendaki kehormatannya dan risalah yang diembannya. Ibn Katsir mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah, Rasulullah bersabda, “Allah tidak mengutus seorang Nabi melainkan dari pengembala kambing. Para sahabat lalu bertanya, “demikian pula dengan engkau  wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Aku mengembalakan kambing milik penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath (1/20 dinar).” (HR.Ibnu Majah).[9] Dalam riwayat lain beliau bersabda, “Allah tidak mengutus seorang Nabi melainkan dari pengembala kambing, Nabi Musa diutus, dia seorang pengembala kambing, Nabi Daud diutus, dia seorang pengembala kambing dan saya diutus juga mengembalakan kambing keluargaku di Jiad.”[10]

Ada beberapa hikmah jika dilihat dari seorang pengembala itu, antara lain:

  1. Pengembala memiliki pemikiran dan cakrawala yang luas, karena dibawah langit yang cerah biru merupakan kesempatan untuk melepaskan pikiran dan perenungan dengan bebas melihat alam terbuka.
  2. Menuntut perhatian dan penjagaan yang serius agar tidak ada satupun gembalaan yang terpisah dan tertinggal dari kawan-kawannya, agar serigala tidak berani datang mendekat dan menerkamnya. Disini anak gembala menyadari bahwa betapa hebatnya kekuatan dan alangkah besarnya kekuasaan yang mengendalikan perjalanan alam semesta ini semuanya.
  3. Perenungan yang begitu tinggi sudah tentu tidak memiliki waktu untuk memikirkan kepuasan nafsu dan kesenangan duniawi yang menjadi kelaziman hidup umumnya penduduk Makkah pada waktu itu.
  4. Hidup berpikir sambil melakukan pekerjaan yang sederhana, sebagai beternak dan mengembalakan kambing sesungguhnya bukan satu usaha dan pekerjaan yang dapat diharapkan untuk mendatangkan kekayaan dan kemewahan hidup. Ini dimaksudkan bahwa beliau bukanlah orang yang ingin menjadi hartawan, hidup mewah dan berlebih-lebihan tapi menjalani hidup dengan sederhana dan bersahaja, sebagaimana ungkapan beliau, “kami adalah bangsa yang tidak makan sebelum lapar dan apabila makan tidak sampai kenyang”.[11]

 

  1. Keluarga Nabi Muhammad

 

Pada usia 25 tahun, Rasulullah resmi menjadi suami dan kepala keluarga dengan menikahi Khadijah binti Khuwailid yang telah berusia 40 tahun dengan masa pernikahan selama 25 tahun pula dengan memiliki empat orang anak. Dalam masa itu, tidak ada catatan yang mengatakan bahwa beliau ingin menikah dengan perempuan lain (poligami). Jadi tidak beralasan jika ada pihak yang menuduh bahwa beliau memiliki syahwat yang berlebihan terhadap perempuan sehingga mendorongnya untuk beristeri banyak. Adapun periodesasi beliau dari mulai monogami hingga poligami dapat digambarkan yaitu mulai usia 25 tahun sampai 50 tahun monogami (25 Tahun monogami), usia 51 tahun sampai 63 tahun berpoligami (12 tahun berpoligami). Gambaran ini menunjukkan bahwa periode perkawinan Rasulullah sebagaian besar dalam bentuk monogami dan hanya memiliki satu isteri saja yakni Khadijah, kemudian sempat hidup menduda sebelum kemudian menikah untuk yang kedua kalinya.[12]

Selanjutnya beliau menikah dengan 12 orang wanita. Untuk keterangan lebih lanjut mengenai nama-nama isteri, sosok/kondisinya, status, usia, tahun pernikahan dan alasan mereka dinikahi Nabi, penulis akan memaparkannya lebih lanjut dalam makalah nantinya, insya Allah.

 

  1. Keteladanannya:[13]

 

  1. Sebagai Seorang Pedagang/pengusaha

Nabi Muhammad Saw. sejak kecil sudah dididik untuk hidup mandiri dan berwirausaha. Saat itu beliau biasa mengembala kambing dikalangan Bani Sa’ad dan juga di Makkah dengan imbalan uang beberapa dinar. Padahal beliau hidup ditengah keluarga yang berkecukupan. Keluarga ayahnya adalah pembesar Quraisy. Namun beliau telah menunjukkan karakter kepemimpinan yang telah dibina sejak kecil.[14]

Ketika berusia 12 tahun beliau telah merintis karir bisnisnya, dan memulai usahanya sendiri ketika berumur 17 tahun hingga ke mancanegara. Pekerjaan ini terus dilakukan sampai menjelang beliau menerima wahyu (berusia sekitar 37 tahun). Dengan demikian Nabi Muhammad telah berprofesi sebagai pedagang selama 25 tahun ketika beliau menerima wahyu. Angka ini sedikit lebih lama dari masa kerasulannya yang berlangsung selama 23 tahun.[15]

Dalam hal berdagang, ada beberapa keteladanan dari beliau yang dapat dijadikan ‘ibrah; pertama, mengutamakan kejujuran,Tatkala Khadijah mendengar kabar tentang kejujuran dan kemuliaan akhlak beliau, Khadijah pun menawarkan kerjasama untuk menjalankan barang dagangannya. Dia siap memberikan imbalan lebih banyak dari imbalan yang pernah dia berikan kepada pedagang lain. Beliau menerima tawaran ini dan beliau pun berangkat ke negeri Syam (sekarang Suriah dan Lebanon). Akhlak yang mulia dan kejujuran serta kecakapannya dalam berbisnis membuat namanya terkenal di seantero Jazirah Arabia. Hal ini membuat Khadijah jatuh hati, kemudian Khadijah pun menikah dengan Muhammad  Al-Amin.

Kedua, melayani sepenuh hati, ketiga, memenuhi janji, keempat, pembedaan yang jelas mana barang yang bagus mana yang jelek. Selain itu dalam berdagang beliau juga memiliki prinsi-prinsip yang dipegangnya, antara lain; tidak boleh berbohong, tanpa paksaan, tidak boleh bersumpah palsu, komoditi yang dijual bersifat halal, ada unsur sosialnya, mempertimbangkan tenggang waktu (sistem ngutang), larangan memonopoli perdagangan, bersikap ramah, tidak melakukan ihtikar, tidak boleh menjelekkan bisnis orang lain, dan membayar upah karyawan.[16]

 

  1. Sebagai Seorang Politikus

Sebagai seorang figur politikus, Rasulullah telah mencapai kedudukan tertinggi dan berada di puncak kejayaan seorang pemimpin. Hal ini dapat dilihat dari kemampuannya dalam mengendalikan pengikut-pengikutnya, sehingga dengan modal kepercayaan utuh dari mereka, Rasulullah pada masa yang sama dapat mengarahkan potensi pengikutnya. Sebagai negarawan, beliau telah meletakkan strategi politik jangka panjang dan menata pola kerja yang ideal untuk menggapai suatu keberhasilan.[17]

Adapun kunci suksesnya politik Rasulullah, setidaknya ada empat, yaitu; kepemimpinan yang simpatik, bertanggung jawab terhdap beban umatnya, berorientasi akhirat serta senantiasa dalam bimbingan wahyu.[18]

 

  1. Sebagai Seorang Guru/pendidik

Rasulullah adalah seorang pembelajar sejati dan guru besar peradaban dunia. Meski tumbuh dikalangan yang minim praktik baca tulis, Rasulullah adalah pembelajar yang cepat. Ia belajar dari pasar, belajar dari teman-teman, belajar dari peristiwa, belajar dari perjalanan dagang dan belajar dari alam. Dengan bimbingan khusus Allah melalui malaikat Jibril, rasulullah dalam waktu cepat menjadi insan dan Nabi yang cerdas dan knowledgeable. Nabi mengajarkan mulianya ilmu dan urgensi ilmu untuk mencapai kesuksesan dunia akhirat.

Rasulullah Juga telah memberitahukan tentang pengangkatannya sebagai seorang guru atau pendidik. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan An-Nasa’i dari Jabir, bahwasanya Rasulullah bersabda:

ان الله لم يبعثني معنفا ولكن بعثني معلما ميسرا

Artinya: “ Sesunggunya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang kasar, tetapi dia mengutusku sebagai guru yang toleran (memberi kemudahan).”[19]

Prof. Dr. Fadhl Ilahi dalam kitabnya, An-Nabi Al-Karim Shallallahu ‘alaihi Wasallam Mu’alliman,  mengatakan bahwa Setiap orang yang ingin belajar metode pembelajaran, dan berusaha untuk sukses sebagai teladan yang diikuti dalam masalah ini, juga dalam memilih metode pembelajaran dan menjaga etika-etikanya, maka tidak akan mendapatkannya seperti yang ia dapatkan dari sirah Rasulullah yang suci.[20]

Kita dapat melihat bahwa semua yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah bersifat universal, mencakup keseluruhan, dan tidak membedakan profesi apapun. Kegiatan mengajar merupakan profesi orisinal para rasul dan nabi yang menjadi tujuan awal pengutusan mereka. Semua kehebatan Rasululah dalam dunia pendidikan, diekspresikan melalui metode mengajar yang memiliki karakter tersendiri yang khas dan kuat.[21]

Lebih dari itu ia pun memberikan teladan “holistic learning method”. Bahwa proses belajar-mengajar yang efektif memerlukan scanning & leveling, active interaction dan learning conditioning. Belajar baru membuahkan hasil jika ada story telling, analogy & case study, body language, self reflection, focus & point basis dan affirmation & repetition.[22]

Rasulullah menegaskan,”ilmu adalah warisan para nabi. Para nabi tidak mewariskan emas atau pun dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak,” (HR.Abu Dawud, Sahih no.364).

 

  1. Sebagai Seorang Suami dan Ayah

 

Salah satu sisi kehidupan Rasulullah yang paling banyak disalahpahami adalah aspek kehidupan keluarganya. Kesalahpahaman ini bukan saja terjadi dikalangan orientalis tetapi tidak sedikit juga terdapat di umat Islam sendiri. Banyak yang menuduh bahwa praktik poligami rasul memiliki banyak masalah, ia haus wanita, ia seorang fedofil, dan lain sebagainya.

Hampir bisa dipastikan kesalahpahaman ini terjadi karena distorsi informasi dan pembacaan yang kurang akurat. Kita jarang mengkaji berapa usia rasul saat menikah lagi, bagaimana kondisi sosial ekonomi janda-janda tua yang dinikahinya, berapa jumlah anak bawaan janda-janda tersebut, serta bagaimana dampak dakwah dan kemenangan sosial politis yang yang ditimbulkan. Bagaiamana rasul menjadi kakek teladan, suami yang bijaksana, ayah idaman keluarga serta mertua yang penuh pengertian. Menurut Aisyah, “Beliau melayani keluarga, menjahit sepatu, mengesol sandal, memerah susu, mengerjakan keperluan sendiri  dan menambal timba. Begitu tiba waktu sholat, beliau lalu sholat.” Nabi juga bersabda, “ yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik kepada keluarganya dan aku adalah yang terbaik kepada keluargaku di antara kalian.” (HR.At-Tirmizi, no. 3895).

 

  1. Penutup

 

Tidaklah berlebihan jika seorang penulis Barat yang bernama Michael H. Hart dalam bukunya, “ 100 tokoh yang paling berpengaruh di dunia” menempatkan Rasulullah sebagai ranking nomor wahid. Realitanya memang begitu. Dalam kurun waktu 23 tahun (dalam perode Makkah dan Madinah), beliau sukses mengubah masyarakat jahiliyah menjadi sosok-sosok yang cerdas secara spiritual, dari masyarakat paganis yang primitif menjadi komunitas bertauhid yang madani. Dari masyarakat yang berperangai kasar menjadi masyarakat yang santun. Dari masyarakat yang tidak dikenal oleh peradaban menjadi umat yang memimpin peradaban. Dari masyarakat yang disebut asyaddu kufran wanifaqan menjadi kuntum khaira ummatin.

Sesungguhnya yang paling menjadi kunci kesuksesan beliau sebagai rahmatan lil ‘alamin adalah keteladanan (uswah). Keteladanan adalah kesatuan ucapan dan perbuatan. Perbuatan adalah perintah yang lebih kuat dari hanya kata-kata. Oleh karea itu, jika kita dilihat lebih jauh, keteladanan Rasulullah meliputi hampir seluruh dimensi kehidupan, mulai dari keteladanan sebagai seorang pribadi muslim sejati, pemimpin, politikus, militer, pendidik, bussinesman, rumah tangga, dakwah, hukum, seorang suami/ayah, hingga keteladanan dalam cinta sekalipun. Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang bisa mengambil ‘ibrah dari keteladanannya tersebut. Amien.

 

 

[1] Dipresentasekan dalam seminar kelas Pendidikan Profesi Guru (PPG) IAIN Sumut pada Mata Kuliah Pendalaman Materi Sejarah Kebudayaan Islam, dengan dosen Pengampu Prof.Dr.Hasan Asari, MA, tanggal 13 Februari 2014.

[2] Peserta kelas B Pendidikan Profesi Guru (PPG) IAIN Sumut 2013/2014.

[3] Muhammad Syafi’i Antonio, Ensiklopedia Leadership & Manajemen Muhammad Saw. The Super Leader Super Manager, Vol. 1,, (Jakarta: Tazkia Publishing, 2012), h. vii.

[4] Muhammad Syafi’i Antonio, Ketika Cinta Membahana, Berbuah Rahmat Bagi Semesta, Kata Pengantar dalam “ Sopian Muhammad, Manjemen Cinta Sang Nabi,” (Jakarta: Cakrawala Publishing, 2011), h. xi.

[5] Ahmad al-‘Usairy, Sejarah Islam, Terj. Samson Rahman, (Jakarta: Akbar Media, 2013), H. 79.

[6] Rus’an, Lintasan Sejarah Islam di Zaman Rasulullah Saw., (Semarang: Wicaksana, 1981), h. 19. Menurut M.Syafi’i Antonio, beliau lahir pada waktu subuh, hari Senin, 12 Rabiul awal Tahun Gajah ke-1, bertepatan dengan tanggal 12 April 571 M, di rumah ibunya di kampung Bani Hasyim di Makkah. Dalam riwayat lain dinyatakan beliau  lahir di rumah Abu Thalib, ketika itu yang menjadi bidan untuk merawatnya adalah Syifa’, ibu Abdurrahman bin Auf. Lihat: M.Syafi’i Antonio, Ensiklopedia…, h. 58.

[7] Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, terj. Ali Audah, (Jakarta: PT.Tintamas Indonesia, 2010), cet. 39, h. 51. Ibn Katsir juga mengatakan “Rasullah dilahirkan pada tahun Gajah, merupakan pendapat yang paling masyhur menurut jumhur ulama.” Al-Imam al-Hafiz Imanuddin Abu Al-Fida Ismail bin Katsir al-Qurasyi ad-Dimasqi, Mukhtashar al-Bidayah wa An-Nihayah, terj. Asmuni, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2011), h. 155.

[8] S.A.Nigosian, Islam Its History Teaching and Practies, (Bloomington: Indiana University Press, 2004), h. 7. Lihat Juga Ibn Katsir, Mukhtashar…, h. 155. Lihat juga Abdurrahman Azzam, The Life of The Prophet Muhammad, (London: The Islamic Foundation, 1999), h. 9

[9] Ibn Katsir, Mukhtashar…, h. 155

[10] Rus’an, Lintasan…, h. 31.

[11] Disadur secara bebas dari Rus’an, Lintasan…, h. 31-34. Lihat juga Zainal Arifin Abbas, Peri  Hidup Muhammad Rasulullah Saw., (Medan: Islamiyah, 1955), h. 433-434.

[12] Muhammad Syafi’i Antonio, Ensiklopedia.. Vol. 3, h. 20-22.

[13] Sebuah bukti yang menguatkan kenabian Rasulullah Muhammad Saw., kesempurnaan risalah dan keagungan kepribadiannya sehingga menjadikan beliau sebaik-baik manusia teladan. Karena keteladanan beliau itulah, Dr.Raghib As-Sirjani menulis sebuah buku khusus keteladanannya dengan judul, Uswatun Lil ‘Alamin Man Huwa Muhammad Saw. Terj. Arif Rahman Hakim, (Sukoharjo: Insan kamil, 2011).  Adapun dalam resume makalah ini akan mengungkapkan bagaimana keteladan beliau sebagai seorang pedagang/pengusaha, seorang pendidik, seorang pemimpin politik dan sebagai seorang suami/ayah.

[14] Thorik Gunara & Utus Hardiono Sudibyo, Marketing Muhammad Saw., (Bandung: Madania Prima, 2008), h. ix.

[15] M.Thobroni, Super Sukses Muhammad, (Yogyakarta: Cakrawala, 2011), h. 155.

[16] M.Thobroni, Super…, h.165-172.

[17] Muhammad Syafi’i Antonio, Ensiklopedia.. Vol. 5, h. 40-42.

[18] Muhammad Syafi’i Antonio, Ensiklopedia.. Vol. 5, h. 194-198.

[19] Potongan dari hadis no 14515, 12/391. Dan lafaz ini milik Imam Ahmad. Diakses dari Software Hadis 9 Imam.

[20] Fadhl Ilahi, An-Nabi Al-Karim Shallallahu ‘alaihi Wasallam Mu’alliman,Terj.Nurul Mukhlisin Asyraf, (Surabaya: Pustaka Elba, 2012), h. 23.

[21] Awy A. Qolawun, Rasululllah Saw: Guru Paling Kreatif, Inovatif dan Sukses Mengajar, (Yogyakarta: DIVA Press, 2012), h. 23. Lebih lanjut mengenai metode pengajaran Rasulullah akan penulis bahas lebih mendalam dalam sebuah penelitian disertasi yang berjudul, “ Metode Pendidikan Rasulullah dan Relevansinya Terhadap Pendidikan Islam Kontemporer” dibawah bimbingan Prof. Dr. H. Hasan Asari, MA, Insya Allah.

[22] Lebih lanjut lihat, Muhammad Syafi’i Antonio, Ensiklopedia.. Vol.6.